Tagana Sumba Timur, Siaga Layani Korban Covid-19 Hingga Ke Liang Lahat

oleh -1.298 views
Tagana Sumba Timur

Waingapu.Com – Banyak pihak yang menaruh respect atau peduli pada warga yang terpapar virus corona atau yang kini lebih akrap disebut  Covid-19. Kepedulian itu bisa secara langsung ditunjukkan, bisa pula lewat untaian kata dan doa yang terungkap dalam hati, ada pula yang mengirimkannya dengan tulus hati plus dinyatakan via media sosial yang kini seakan tak bisa lepas dari lika-liku insan manusia modern. Namun tidak banyak yang bisa dan mau untuk bersentuhan dengan mereka-mereka yang menjadi korban dan harus menutup ‘lembaran’ hidupnya karena harus diakrabi virus yang hingga kini masih jadi pandemik itu. Selain para medis ataupun tenaga kesehatan, peran beberapa figur yang tergabung dalam Taruna Siaga Bencana (Tagana) layak untuk diapresiasi, paling tidak didukung dengan doa.

“Terima kasih untuk doa-doa yang diberikan untuk para anggota Tagana. Kami yakin doa itu tulus dari hati warga yang bersimpati,” ungkap Andrias Nindir, Kepala Seksi (Kasie) Bencana pada Dinas Sosial Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) – NTT dalam percakapan dengan media ini lewat gawainya beberapa hari lalu.

Tagana Sumba Timur

Tim Tagana, kata Andrias, khususnya delapan orang yang telah dilatih khusus untuk pemakaman korban meninggal dunia karena  Covid-19, kapan saja selalu siaga dan siap.

Baca Juga:  Polisi Masih Amankan Air Soft Gun Karyawan PT. MSM

“Mau jam berapa saja, Tagana siap untuk ambil bagian dalam pemakaman korban  Covid-19 di TPU kilometer sepuluh,” timpalnya sembari menambahkan, Tagana yang terlibat sudah pasti akan dilengkapi dengan APD lengkap dan khusus sesuai protokol tetap (Protap) pemakaman korban Covid yang selama ini berlaku umum tak hanya di Indonesia tapi juga global.

“Kami Tagana yang ikuti latihan plus pak Kasie Bencana memang ada delapan orang. Yang lalu latihannya di RSUD Umbu Rara Meha,” jelas Ferdi Kilimandu, beberapa saat pasca dimulainya percakapan lewat sambungan telpon dengan media ini, Jumat (15/01) siang lalu. Adapun Ferdi merupakan koordinator Tagana pada Dinas Sosial Sumtim.

Dijelaskan Ferdi, sejak pertama adanya korban jiwa atau meninggal dunia karena  Covid-19, Tagana selalu terlibat mulai dari pengusungan peti jenazah ke Ambulans hingga masuk ke liang lahat di kompleks pemakaman.

”Dari pertama ada korban Jiwa kami Tagana selalu siap dan ikut. Oyaa sempat yang lalu saat korban ketiga, hanya kami Tagana yang ikut, bahkan sampai kami Tagana yang nyetir Ambulans membawa jenazah ke Pemakaman,” ungkapnya. Padahal kata dia, para anggota Tagana yang hadir saat itu sepenuhnya tahu bahwa tidak hanya mereka yang dilatih dan juga dikukuhkan dengan SK Bupati sebagai pelaku atau anggota Tim pemakaman namun juga ada elemen lainnya.

Baca Juga:  Prahara DBD Berlanjut, Sudah 13 Warga Meninggal Dunia

Seiring berjalannya waktu, kini Tagana tidak lagi sendiri, elemen lainnya juga telah aktif mengambil peran dalam misi ‘beresiko’ itu namun kental dengan nuansa sosial dan kemanusiaan itu.

“Rekan-rekan TNI dari Kodim juga Brimob sudah ambil peran yang sama dengan kami, Puji Tuhan,” tandas Ferdi sembari tetap meminta dukungan doa dari warga terkait tugas mereka.

Ditanya tentang insentif yang diterima mereka dalam menjalani misi sosial dan kemanusiaan itu, Ferdi kembali menyatakan syukurnya. “Puji Tuhan, insentif untuk kami paling lama satu atau dua hari pasca pemakaman akan langsung dicairkan,” katanya.

Diakui Ferdi, intensif yang diterima sejak korban pertama hingga kelima sebesar Rp. 250 ribu per anggota Tagana. “Awal-awal 250 ribu setiap selesai pemakaman. Puji Tuhan, pak Bupati bantu di perubahan dan mulai Januari ini menjadi 1,5 juta perorang setiap selesai pemakaman,” tutupya.

Baca Juga:  Empat Karyawan Positif Covid-19, Puskesmas Waimangura – Wewewa Barat Ditutup

Sekilas percakapan dengan dua figur yang aktif terlibat prosesi pemakaman warga yang meninggal dunia dan terkonfirmasi  Covid-19 ini, diharapkan bisa mengusik nurani untuk kembali memanjatkan doa untuk tugas yang mereka emban. Namun tentunya perlu juga diimbangi dengan perubahan perilaku untuk tetap mengedepankan penerapan protokol kesehatan. Gunakan masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir plus menjaga jarak dan menghindari atau tidak menciptakan kerumunan adalah cara yang tidak sulit untuk dilalukan.

Tagana dan elemen lainnya yang terlibat dalam pemakaman, memang telah dibekali APD yang memadai dan sesuai dengan ketentuan. Tapi tak bisa pula dipungkiri, ada kecemasan dalam diri dan juga orang-orang terdekatnya, kala mereka harus menjalankan tugas sosial dan kemanusian nan mulia itu. Cukuplah sudah 10 keluarga, sahabat dan orang terdekat kita yang harus dimakamkan karena paparan makhluk yang tak terlihat dengan mata telanjang itu. Jangan lagi ada tambahan, hingga linangan air mata kembali menetes dan hati kembali lara. (ion)

Komentar