Wirausaha Sosial Perkebunan Jambu Mete yang Membangun Hidup Masyarakat di Sumba Barat Daya

oleh
Emanuel Budi Ege

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa salah satu sentra perkebunan jambu mete terdapat di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).Tanaman jambu mete ini, bagi masyarakat Sumba, khususnya Sumba Barat Daya, sebetulnya bukan jenis tanaman baru sama sekali. Tanaman ini sudah dikenal oleh nenek-moyang mereka sejak lama. Artinya, sudah ada dan tumbuh subur di padang-padang dan hutan-hutan savana Sumba. Namun populasinya hanya dapat dihitung dengan jari dan belum ada manfaatnya, kecuali buah semunya yang bisa dimakan oleh orang-orang yang sedang gembala ternak atau sedang berladang.

Proyek IPAT

Sejalan dengan perkembangan kemajuan pada sektor pertanian, khususnya dalam subsektor perkebunan Indonesia, kalau tidak keliru, maka sejak era awal 1980-an, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat (belum ada pemekaran kabupaten), melalui Dinas Perkebunannya, melaksanakan pengembangan tanaman jambu mete, sebagai komoditi perdagangan strategis untuk memenuhi kebutuhan “mete”, baik dalam negeri maupun luar negeri. (Katanya, bukan hanya kacang mete yang dibutuhkan, tapi juga kulit/tempurungnya bermanfaat).

Pengembangan komoditi jambu mete tersebut merupakan program nasional, yang digulirkan dari  Departemen (sekarang Kementerian) Pertanian RI. Program ini dilaksanakan melalui proyek tugas pembantuan (dekonsentrasi). Salah satu proyek yang terkenal, setahu saya, adalah IPAT.

Pengembangan tanaman jambu mete di Sumba Barat diprioritaskan di dua wilayah kecamatan yaitu Loura dan Kodi. Dua kecamatan ini, dari sisi budidaya tanaman jambu mete, dinilai sangat cocok. Iklimnya lebih kering, bulan kemarau lebih panjang daripada bulan hujan, dan lahannya masih banyak yang kosong. Kedua wilayah tersebut, kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya, daerah otonom baru yang mekar dari Kabupaten Sumba Barat sejak akhir tahun 2006.

Baca Juga:  Genosida Budaya Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Pada awal pengembangan komoditi jambu mete ini, kurang mendapat respon dari masyarakat petani. Boleh dibilang masyarakat petani merasa dipaksa dan terpaksa menanam tanaman jambu mete, yang bibitnya disiapkan oleh pemerintah. Bahkan bukan sedikit petani yang menerima bibit tanaman, pupuk dan biaya tapi tidak melaksanakannya. Mengapa? Karena mereka belum tahu persis apa manfaat dan bagaimana pemasaran hasilnya.

Namun menginjak akhir era 1980-an dan awal era 1990-an, ketika tanaman jambu mete sudah mulai berproduksi dan ternyata ada pasarnya, maka masyarakat petani mulai terbuka matanya dan mulai inisiatif mengembangkan tanaman tersebut di lahan mereka. Waktu itu harga biji jambu mete di pasaran masih Rp. 1.000 per kilogram. Nilai uang ini termasuk sangat besar pada saat itu. Setara dengan nilai padi kering giling per kilogram.

Sejak saat itu pengembangan komoditi jambu mete oleh masyarakat petani berkembang pesat. Luas lahan dan produksi jambu mete meningkat tajam. Sampai dengan kondisi sekarang ini, menurut data Profil Sumba Barat Daya Tahun 2017, luas lahan jambu mete mencapai 10.863 hektar dan produksinya khusus untuk tanaman produktif (9.980 hektar) sebesar 5.942 ton. Harga pasaran biji jambu mete sekarang ini sekitar Rp. 22.500-Rp. 25.000.

Singkat kata, pengembangan komoditi jambu mete di Sumba Barat Daya, boleh dibilang sukses. Namun dari sisi dampaknya, ada nilai plus (positif) dan juga nilai minusnya (negatifnya).

Baca Juga:  Sukses Bertani di Musim Hujan dan Kemarau, Warga Masyarakat di Loda Pare – Sumba Barat

Dampak Positif

  1. Dampak positif pengembangan komoditi jambu mete di Sumba Barat Daya, diantaranya meliputi yaitu: pertama, lahan kosong, termasuk padang rumput, berubahan menjadi hutan jambu mete. Keadaan ini, dari sisi lingkungan sangat menguntungkan. Faktanya, musim hujan menjadi lebih stabil dan merata setiap tahun.
  2. Perekonomian masyarakat lebih dinamis. Data luas tanaman jambu mete, capaian produksi dan harga pasaran biji jambu mete di atas adalah indikasi konkretnya. Dalam satu tahun saja, setelah panen, masyarakat petani memiliki uang sebesar Rp. 224.550.000 sampai dengan Rp. 249.500.000. Data ini memperlihatkan bahwa ada uang sejumlah itu yang beredar di masyarakat. Data ini juga memperlihatkan bahwa daya beli dan kesejahteraan masyarakat petani mengalami peningkatan. Faktanya, mereka memang bisa membangun rumah permanen, mampu menyekolahkan anak sampai kuliah, dan bisa memiliki kendaraan pribadi, seperti motor dan mobil.
  3. Para pengumpul hasil bumi bisa meningkat usahanya. Mereka bisa mendirikan kios atau toko di pedesaan untuk mendekatkan kebutuhan masyarakat. Mereka juga bisa menyediakan kendaraan angkutan umum untuk pedesaan.
  4. Pemerintah membangun atau memperbaiki sarana jalan raya ke daerah produksi hasil pertanian (termasuk jambu mete) untuk mempermudah masyarakat petani dan pembeli hasil bumi.
  5. Pemerintah meningkatkan mutu dermaga dan jumlah kapal barang (very) untuk mempermudah pengangkutan hasil bumi yang diproduksi oleh masyarakat petani.

Dampak Negatif

  1. Sedangkan dampak negatif pengembangan komoditi jambu mete di Sumba Barat Daya, diantaranya meliputi yaitu: pertama, produksi palawija, terutama padi ladang dan jagung terus menurun dari waktu ke waktu. Karena lahan-lahan potensial dan subur serta cocok untuk palawija telah berubah menjadi kebun jambu mete. Fakta ini merupakan kekeliruan besar dalam pengembangan jambu mete. Seharusnya jambu mete diarahkan pengembangannya di lahan-lahan kritis, supaya lahan-lahan ini bisa hijau dan juga masih bisa menghasilkan secara ekonomi. Sedangkan lahan-lahan potensi dan subur harus tetap dipertahankan untuk palawija, sehingga tidak mengganggu produksi untuk kebutuhan dan ketahanan pangan masyarakat.
  2. Dari sisi tradisi adat-istiadat dan kebudayaan. Sejak komoditi jambu mete berproduksi, pelaksanaan perkawinan adat dan pesta-pesta adat lainnya, sudah bergeser waktu pelaksanaannya. Jika sebelum ada jambu mete dilaksanakan selepas panen padi dan jagung, mulai bulan mei sampai agustus, masa rekreasi atau istirahat menurut tata musim adat, maka setelah ada jambu mete bergeser mulai bulan sepuluh sampai november, saat panen jambu mete, yang menurut tata musim adat adalah masa kerja dan tidak boleh lagi ada acara-acara adat. Akibatnya, masyarakat yang melaksanakan acara-acara tersebut, tidak mempunyai kesempatan yang cukup dalam menghadapi tanam.
  3. Lahan yang ditanami jambu mete menjadi miskin unsur hara atau tidak subur. Tanaman semusim seperti padi, jagung, ubi kayu dan kacang-kacangan yang ditanam di antara pepohonan jambu mete tidak akan tumbuh-kembang dengan baik atau merana jika tidak disertai dengan pemupukan yang cukup.
Baca Juga:  Pulau Sumba Dalam Ancaman Privatisasi, Perlu Kepastian Ruang Hidup Warga Pesisir

Dalam peretanian ini bisa mendapat perhatian serius, baik oleh pemerintah maupun swasta, tentu akan membawa manfaat yang lebih besar lagi untuk kesejahteraan masyarakat dan daerah Sumba Barat Daya.

Penulis:  Emanuel Budi Ege, Mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan, Malang

Komentar