Mengakrabi Kisah Lelaki Sumba Timur “Mengabdi” di Posyandu

oleh -347 views
Lelaki Posyandu

Waingapu.Com – Esri Rambu Kareri Hara (26) sudah terbiasa dengan kunjungan Umbu Linus, kader Pusat Pelayanan Terpadu (Posyandu) sejak dia dalam kondisi hamil kemudian menyusui bayinya. Kini Esri punya lima anak dan Umbu Linuslah yang selalu mengunjungi dirinya termasuk mengecek kesehatan kelima anaknya.

“Kami sudah terbiasa dengan Bapa Umbu Linus ini, dia melihat dan melayani kami sebagai anak dan cucunya. Dia yang berkunjung dia pula yang nanti akan dan turunkan anak kami dari timbangan bahkan bantu bujuk anak kami kalau menangis di Posyandu,” jelas Esri.

Lelaki Posyandu

Setiap kunjungan, Umbu Linus selalu berpesan pada Esri untuk tidak lupa datang ke Posyandu pada tanggal-tanggal tertentu.

Selain Esri, Yaku Danga (42) juga rutin mendapatkan kunjungan dari Muka Hamba Kodi, kader Posyandu laki-laki lainnya. Dia dan perempuan di desa tersebut terbiasa dengan layanan kader Posyandu ini.

Lelaki Posyandu

“Ini di perut saya ini anak kelima sudah, dari dulu saya punya anak-anak dilayani di Posyandu sama aya (Kakak, – red) Muka Hamba Kodi. Bukan saya saja, warga lain juga mau jam berapa saja kalau dia dengar dan tahu ada perlu layanan karena mau melahirkan atau sakit selagi hamil, dia pasti cepat-cepat datang dan bantu cari dan panggil bidan di Puskesmas,” jelas Yaku Danga yang sedang mengandung empat bulan itu.

Ditanya terkait layanan kader posyandu tentu berdampak pada saling bersentuhan fisik, sementara kader adalah lelaki, adakah tidak merasa risih bagi diri dan juga suami? 

Esri menegaskan, hal itu tidak pernah dipikirkan dan tidak terjadi. 

“Aman dan nyaman saja kami selama ini, karena itu tadi, kami dilayani sebagai anak dan cucu oleh Bapa Umbu Linus,” timpalnya.

Lelaki Posyandu

Umbu Nggaba Yina atau Umbu Linus (50) dan Muka Hamba Kodi (44) memang cukup terkenal di kalangan ibu-ibu di Desa Napu, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Memang Umbu Linus dan Muka Hamba Kodi adalah dua dari lima kader Posyandu di tempat tersebut. Desa Napu sendiri adalah desa yang berjarak kurang lebih 65 kilometer dari kota Waingapu dan bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam durasi lebih kurang dua jam itu.

Sumba Timur termasuk kabupaten yang terkategori tertinggal di wilayah Propinsi  NTT.  Kondisi kesehatan yang ideal bagi ibu, balita dan anak adalah asa yang hingga kini masih terus diupayakan untuk lebih baik dari  seiring bergulirnya waktu. Salah satu langkah penting untuk mencapainya adalah dengan pelayanan imunisasi. Peran para tenaga kesehatan (Nakes) tentu tak bisa menjadi harapan tunggal, namun perlu pula melibatkan pihak lainnya semisal Kader Posyandu. 

Sayangnya, kader posyandu di Sumba Timur masih minim memperoleh apresiasi khalayak, juga pemerintah. Padahal dalam segala keterbatasan yang di alami, perannya tidak bisa dianggap sepele. Misalnya saja keterlibatan sejumlah lelaki sebagai kader Posyandu.

Percaya atau tidak, total jumlah kader posyandu di kabupaten ini, jumlah kader posyandu laki – laki justru cukup banyak. Kondisi ini cukup bertolak belakang dari stigma yang sudah mendarah daging di Bumi Pertiwi bahwa urusan Posyandu dan imunisasi hanyalah peran perempuan.

Chris U.H. Katundiang, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Sumba Timur mengatakan ada 587 Posyandu yang tersebar pada 22 kecamatan di Sumba Timur. 

Posyandu itu dioperasikan oleh 2.857 orang kader, dan dari jumlah tersebut, 559 diantaranya adalah kader posyandu laki-laki!

Media ini berkesempatan melihat dari dekat semangat dan peran lelaki Sumba Timur yang melayani warga di desanya sebagai kader posyandu. Dalam kunjungannya ke rumah beberapa perempuan sasaran Posyandu yang baru beberapa bulan melahirkan, kami berkesempatan bercakap-cakap dengan Umbu Linus dan Muka Kodi. 

Baca Juga:  Kawal PPKM Level IV, Polisi & TNI Serta Pol PP Sinergi di Paris Matawai - Waingapu

Menurut Umbu Linus, kunjungan ke ibu hamil dan melahirkan dilakukan minimal sekali seminggu atau beberapa hari menjelang aktivitas di Posyandu.

“Yaa jalan kaki begini sudah, kadang juga pakai motor kunjungi ibu hamil atau keluarga yang punya anak bayi dan anak yang harus dilayani di Posyandu. Sekarang memang sulit pakai motor karena tahu sudah too, harga BBM naik,” ujar Umbu Linus dalam perjalanan menuju rumah Esri.

Dikisahkannya, awal merintis peran sebagai kader posyandu di desanya, ada keluarga dan teman yang menyatakan heran dan ungkapkan pertanyaan serta perasaannya. Karena itu tadi, urusan kesehatan ibu dan anak serta kader psoyandu, telah terstigma menjadi urusan kaum perempuan. 

“Ada yang tanya ke saya, kenapa mau jadi kader posyandu? Macam perempuan saja. Orang punya anak dan isteri yang hamil kau yang tukang urus. Saya hanya senyum-senyum saja, terima saja apa kata mereka. Paling saya jawab, kita semua satu desa ini sebenarnya keluarga, jadi sama saja saya urus saya punya keluarga sendiri,” urainya. 

Umbu Linus yang merupakan bapak dari satu orang anak dan kakek dari satu cucu itu, juga mengakui insentif yang diterima memang kecil. Namun dengan senyum tipis, dirinya mengakui risiko itu harus diterimanya sebagai pekerja sosial dan suka rela.  

“Yaa kami terima insentif 200 ribu perbulannya, tapi terimanya juga tidak tiap bulan, tergantung tahapan pencairan dana desa juga. Tapi itu sudah syukur bagi saya dan juga kader lainnya. Kami dari awal sadar desa dan pemerintah kabupaten juga terbatas dananya, dan kami juga ini pekerja suka rela,” urai Umbu Linus yang mengaku telah menjadi kader psoyandu sejak tahun 2000 silam itu. 

Pengabdian sebagai kader posyandu saat musim hujan maupun kemarau punya tantangan tesendiri. Jika musim hujan, kader harus siap menerima basah, becek dan berlumpur kala mengunjungi warga. Belum lagi, kata Umbu Linus jika harus ada layanan pemberian makanan tambahan seperti bubur kacang hijau, telur ayam dan susu bagi warga yang ke posyandu. Kayu bakar yang terkena air hujan tentu akan lebih sulit dibakar api. Kalaupun terbakar pasti asapnya membuat mata perih dan tidak nyaman di hidung. 

“Kalau musim kemarau seperti sekarang yaa paling panas matahari saja. Kalau mau sedikit teduh yaa sore-sore kunjungi warga, kalau malam juga bisa tapi harus hati-hati siapa tahu ketemu ular hijau di jalan,” tukas Umbu Linus yang rambut dan kumisnya telah dominan memutih itu.

Paparan yang tidak jauh beda juga dikemukakan Muka Hamba Kodi. Kader yang berdomisli di Kampung Adat Praingu Napu itu juga mengakui secara sadar dan ikhlas menerima tawaran dari Ketua kader untuk mendapingingi menjadi Kader Posyandu di desanya. 

“Ini saya baru saja pulang dari rumah seorang warga, kasih ingat agar nanti hari Kamis (19/05/2022) datang ke Posyandu karena bisa saja ada layanan imunisasi dan pemberian makanan tambahan,” tukasnya.

Hamba Kodi mengaku sejak tahun 2003 dipercaya menjadi kader posyandu itupun, mensyukuri insentif yang diterimanya walaupun masih sedikit dan tidak rutin tiap bulan. “Syukuri saja yang diterima, karena memang bukan itu yang menjadi tujuan saya. Berkat bisa datang dari mana saja,” timpalnya.

Ungkapan tulus Muka Hamba Kodi itu ternyata bukanlah hanya barisan kata dan kalimat manis semata. Warga setempat dan khususnya para ibu yang miliki anak dan bayi, sejak lama mengenalnya sebagai pribadi yang tidak sungkan membantu. 

Baca Juga:  Catatan Lepas Kala Diam di Rumah: ‘Dora Emon Hingga Loreng’, Sejenak Sikapi Corona Virus Dengan Tetap Enjoy

Rambu May Ata Ruru, Ketua kader Posyandu Desa Napu mengatakan kader lelaki Posyandu miliki etos kerja yang tinggi. Para kader itu memang dipilih karena bisa bekerja sama, mau mendengar dan belajar juga miliki kepedulian yang tinggi pada ibu hamil, anak balita dan bayi.

“Kalau tidak punya etos kerja, kepedulian sosial dan kemanusiaan serta etos kerja yang baik, tentu mereka sudah lama tidak mau lagi jadi kader atau diberhentikan,” kata Rambu May Ata Ruru pada Media.

Segendang penarian, Hendrik Hamba Pulu, Kepala Desa Napu, juga menyatakan hal yang sama terkait dengan peran dua lelaki di desanya yang mengabdi sebagai kader posyandu. 

“Mereka telaten dan memang disukai oleh para kader lainnya juga tentunya bisa diterima oleh para ibu hamil,menyusui juga yang miliki bayi dan balita dalam keluarganya. Kami dari dana desa mendukung Pemkab dalam memberikan insentif, walau memang jujur itu tidak seberapa karena memang kami juga miliki kerbatasan dana,” tanggapnya ketika ditemui di Kantor Desa itu.  

Hendrik juga mengakui kehandalan dua kader posyandu itu dalam melayani warga dalam pengabdiannya. Hal itu merujuk pada cerita dari warga desa yang dipimpinnya, yang pernah merasakan tangan dingin Umbu Linus dan Muka Hamba Kodi. 

“Posyandu itukan kadang memberikan layanan pemberian makanan tambahan, jadi mereka berdua ini yang paling banyak peran cari kayu api, angkat dandang, periuk dan kuali serta ambil air untuk masak. Mereka tidak suka duduk santai  dan membiarkan ibu-ibu kader yang kerja. Kadang mereka bantu suapin anak-anak,” jelas Hendrik.

Pengabdian tulus kedua kader ini yang membuat Hendrik dan juga ketua kader tidak punya niatan untuk mengganti kedua kader ini, sekalipun sebagai pimpinan di desa itu, dirinya punya kewenangan itu.

“Mereka layani warga rajin dan tulus, warga juga senang dengan mereka, jadi sedikitpun tidak ada niatan mengganti mereka, keculi mereka karena kehendak sendiri meminta berhenti jadi kader,” timpal Hendrik menaggapi pertanyaan seputar adanya desa yang ‘bongkar pasang’ kader karena persoalan politik semisal suksesi Kepala Desa misalnya.  

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Chris U.H. Katundiang mengatakan untuk urusan posyandu memang dibawahi dinas yang dipimpinnya, walaupun dalam pelayanan pada warga tetap menjalin koordinasi dan kerjasama dengan instansi lainnya seperti Dinas Kesehatan. 

Dia mengakui minimnya apresiasi dalam bentuk insentif bagi para kader posyandu. Untuk satu posyandu biaya operasionalnya sebesar Rp. 1.680.000 pertahunnya, dan itu selanjutnya dibagi untuk lima orang kader.

“Jadi memang harus diakui masih sangat minim insentif bagi para kader. Kalau dilihat dari alokasi dana pertahunnya untuk satu posyandu, lalu dibagi lima, para kader hanya menerima insentif yang sangat kecil. Karena itu itu perlu diback up dengan APB-Des,” timpal Chris.

Jika dikalkulasi untuk setiap posyandu  didanai APBD sebesar Rp. 1.680. 000 pertahunnya dibagi dengan lima orang kader, maka seorang kader akan mendapatkan insentf hanya 336.000 ribu pertahun atau Rp. 28 ribu perbulannya. Beruntung jika pemerintah desa mengalokasikan dana lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB-Des). 

“Yaaa ada beberapa desa yang mengalokasikan dana sehingga para kader bisa menerima insentif mencapai 100 ribu atau lebih perbulannya, namun yaa tetap diterimanya per triwulan,” imbuh Chris.

Tugas Berat Kader Posyandu

Selain minimnya jumlah kader di Posyandu, Ketua Kader Posyandu Rambu May Ata Ruru mengatakan pihaknya senantiasa berupaya melakukan sosialisasi dan juga edukasi tentang manfaat imunisasi bagi bayi dan anak-anak.  Sayangnya, semua sering terkendala vaksin yang sulit di dapat atau tiba di saat yang tidak tepat lagi. 

Baca Juga:  Bupati Sumba Timur ‘Uji’ Kecanggihan Peralatan Medis RSUD

“Sejak tahun 2021 lalu kendala sebenarnya adalah vaksin. Ini ada yang sudah usia 12 bulan saja belum ada yang terlayani imunisasi campak. Imunisasi lengkap bagi bayi dan balita di sini memang belum, karena kendalanya vaksinnya tidak atau belum ada,”ungkap Rambu May yang juga merupakan Kader Pembangunan Manusia (KPM) di desanya itu.

Padahal sebut dia, para orang tua sudah memahami imunisasi dan manfaatnya bagi tumbuh kembang anak. Namun demikian, dirinya terus berupaya agar nantinya, secara maksimal 53 bayi dan balita serta lima ibu hamil dan balita terlayani imunisasi lengkap.

“Idealnya kalau bayi dari umur 3 bulan harus diimunisasi sementara ibu hamil pada semester pertama juga harus terlayani. Kemarin saya sudah tanya juga ke petugas yang biasa layani kami vaksin imunisasi, tapi jawabnya memang belum ada vaksinnya, itu katanya dari penyedianya,” urai Rambu May sembari menambahkan, Posyandu yang diketuainya melayani ibu dan bayi serta balita yang tersebar pada 11 RT yang ada.

Dalam rangka mencapai target imunisasi bagi anak dan balita di Kabupaten Sumba Timur, dalam kaitan dengan pencanangan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) tahun 2022, Dinas Kesehatan setempat menggelar rapat persiapan pada Rabu (11/05/2022) lalu. Dalam kegiatan yang terlaksana di aula Setda Pemkab itu juga disebutkan pentingnya kader posyandu melakukan sosialisasi dan edukasi di masyarakat. 

Merujuk data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan setempat menyatakan, anak usia 12 bulan hingga 12 tahun adalah yang menjadi sasaran imunisasi dalam BIAN nanti mencapai lebih dari 65 ribu orang.

“Bisa lebih dari 65 ribu yang menjadi target atau sasaran imunisasi di Sumba Timur. Dalam kaitan dengan BIAN, kita masih tergantung pasokan logistik dari pusat baru kita canangkan mulai dari tingkat Kabupaten dan selanjutnya kecamatan. Kalau vaksinator dari kami di seluruh Faskes yang ada sudah terlatih dan siap,” ungkap Tinus Njurumbaha, Sekdis Kesehatan setempat.

Optimalisasi pelaksanaan imunisasi tak bisa hanya diatas kertas. Karena itu, Bupati Sumba Timur, Khistofel Praing menegaskan pentingnya etos kerja bagi semua komponen. Momentum BIAN dijadikannya sebagai salah satu evaluasi kinerja stafnya, dalam kerangka sosialisasi dan edukasi akan pentingnya imunisasi. 

Kendati mengakui adanya keterbatasan sumber daya dan juga dana, namun dirinya menegaskan kondisi serupa juga dirasakan hampir seluruh elemen di negeri ini. Suksesnya imunisasi bagi balita dan anak – anak, tegas Khristofel tentunya tidak berbeda dengan program lainnya, yakni  diawali dnegan keakuratan atau validitas data. 

“Saya minta para Camat, Kapus, Kades dan juga Lurah bahkan para ketua RT dan RW agar terus melakukan sosialiasi dan edukasi pentingnya imunisasi. Sebagaimana saya selalu ulang-ulang sampaikan, validitas atau akurasi data itu penting. Jumlah anak yang wajib imunisasi berapa orang, by name by address, di kecamatan berapa orang, juga desa, kelurahan, RW dan RT,” tegasnya saat memberikan arahan pada para peserta rapat.

Masih terkait dengan pendataan yang benar bagi anak sasaran imunisasi, selain para Camat dan Kapus tahu jumlah total sasarannya, Bupati Khristofel juga menekankan para kepala desa dan lurah tidak hanya sebatas mengetahui jumlah sasaran, tapi perlu pula tahu anak itu dari keluarga mana dan bagaimana, dan tahu siapa RT dan RW-nya. 

“Kerja yang sistematis itu memang harusnya begitu. Data penting untuk diketahui dan dikuasai, karena bagaimana programnya tepat sasaran, bagaimana kita bisa mengambil dan menentukan kebijakan juga alokasi anggarannya jika datanya tidak valid?” pungkasnya. (ion) 

Komentar